Senin, 05 November 2012

Akulturasi dan Relasi Internakultural

Pengertian Akulturasi

Dari beberapa ahli menyimpulkan beberapa definisi dari akulturasi, yaitu sebagai berikut :

       Menurut Koentjaraningrat : Akulturasi adalah suatu proses social yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsure-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsure-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ki dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

      Menurut Garbarino : "Acculturation (is) the process of culture change as a result of long term, face to face contact between two societies" (Garbarino, 1983). “Akulturasi (adalah) proses perubahan budaya sebagai akibat jangka panjang, tatap muka kontak antara dua masyarakat "(Garbarino, 1983).

      Menurut Redfield, Linton, Herskovits : Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu, dan mengadakan kontak secara terus menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.

       Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.


Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya akulturasi

 Secara garis besar, ada dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu:
Faktor Intern 
  • Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
  • Adanya penemuan baru. Discovery --- penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada. Invention --- penyempurnaan penemuan baru. Innovation ---pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat.
  • Konflik yang terjadi dalam masyarakat.
  • Pemberontakan atau revolusi


Faktor Ekstern 
  • Perubahan alam
  • Peperangan
  • Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi(pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi(pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).
      Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang berbeda nilai.
 
Pengertian Internakulturasi

      Relasi Internakultural adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras,etnis, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
       Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya

Internakultural ini sendiri dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan

2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama 

3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita 

4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara

Jadi, akulturasi dan relasi internakultural (komunikasi antar budaya) memiliki relasi atau hubungan yang saling berpengaruh, karena sesuai dengan pengertian akulturasi. Akulturasi ini merupakan bagaimana suatu kebudayaan menerima kebudayaan asing tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya, proses penerimaan kebudayaan ini tidak akan jadi tanpa adanya komunikasi antar budaya (internakultural), karena tanpa adanya komunikasi maka tidak akan terjadi yang namanya pertukaran budaya, dalam komunikasi ini akan terjadi proses saling mempengaruhi antara satu budaya dengan budaya lainnya sehingga terjadilah suatu akulturasi pada suatu kebudayaan.
 

Jumat, 12 Oktober 2012

Transimisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan

A. Pengertian Transmisi Budaya

    Budaya sebagai jejak laku manusia, yang diperoleh melalui hasil pembelajaran lengkap dengan unsur bahasa yang menjadi landasannya, sangat terikat dengan apa yang kita namakan ruang-waktu. Dalam ruang, budaya menjelma tradisi. Diikuti oleh turunannya yang kemudian masuk pada wilayah normatif dan relatif. Budaya yang sarat dengan tatanan norma kemasyarakatan, meski terkena hukum etiket. Relatif adanya. Karena hampir di setiap kebudayaan manusia, terdapat patokan yang berbeda untuk menjustifikasi sebuah tindakan budaya apakah beretika atau tidak.
    Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya. Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya adalah sebagai berikut: “budaya adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu (Wallendorf & Reilly dalam Mowen: 1995)”.
    Dari definisi diatas, dapat diketahui bahwa transmisi budaya adalah kegiatan pengiriman atau penyebaran suatu hal dari generasi satu ke generasi berikutnya. dalam perjalanan sebuah transmisi, banyak mengalami proses distorsi dan penetrasi dari budaya lain, hal itu dikarenakan komunikasi antar budaya mengalir tanpa hambatan.

B. Bentuk Transmisi Budaya

     1. Enkulturasi
         Enkulturasi adalah proses dimana kebudayaan diteruskan dari generasi satu ke generasi berikutnya dari intuisi keluarga terutama dari ibu yang terjadi sepanjang kehidupan manusia.
         Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka
     2. Akulturasi
         Akulturasi merupakan Proses dimana terjadinya pertemuan dua kebuadayaan yang berbeda yang akan menghasilkan kebudayaan baru tanpa hilangnya kultur kebuadaayn asli.
         Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.
     3. Sosialisasi
         Sosialisasi adalah proses dimana seorang individu dari kanak-kanak sampai menjadi dewasa belajar untuk bersosialisasi atau berhubungan dengan orang-orang disekitarnya. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.

C. Pengaruh terhadap perkembangan individu

     a.  Pengaruh enkulturasi terhadap perkembangan psikologis individu
          Proses enkulturasi dapat mempengarushi psikologis individu dimana dalam proses enkulturasi, individu dapat belajar menyesuaikan budaya disekelilingnya melalui sistem adat, norma, dan peraturan-peraturan lain yang berlaku didalamnya.
     b. Pengaruh proses alkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu
         Proses alkulturasi juga dapat mempengaruhi psikologis individu. karena didalam alkulturasi akan menhagasilkan adanya kebudayaan-kebudayaan baru yang ada di sekelilingnya yang akan dijumpai oleh seseorang, dimana seseorang harus dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang baru masuk ke dalam kebudayaan aslinya.
     c. Pengaruh proses sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu
         Dalam proses sosialisasi seseorang berkembang dari mulai dilahirkan sampai beranjak dewasa, dimana  banyak perkembangan-perkembangan yang terjadi selama berangsurnya proses belajar tersebut. individu belajar mengenal orang-orang disekelilinganya dan lingkungannya melalui sebuah proses sosialisasi yang mebuat seorang individu menjadi aktif didalamnya.

D. Awal Perkembangan dan Pengasuhan

     Transmisi budaya terjadi sesuai dengan bagaimana generasi sebelumnya membimbingnya, yaitu dengan cara  pengasuhan terhadap generasi berikutnya. dimana dalam proses pengasuhan akan  terjadi juga  proses enkulturasi dan akulturasi yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologi individu yang akan menentukan menjadi individu yang seperti apa dalam kehidupan selanjutnya. individu tidak dapat berdidir sendiri tetapi individu memerlukan hubungan dengan orang lain maupun lingkungan disekelilingnya. karena itu manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdidir sendiri.
Sumber :
http://www.imadiklus.com/2012/04/kajian-antropologi-teknologi-pendidikan-kasus-transmisi-budaya-belajar.html

PENGERTIAN DAN TUJUAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN ILMU LAIN



Psikologi lintas budaya merupakan kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis dalam berbagai budaya, etnik, dan suku bangsa.

A.    DEVINISI
Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi.

B.     TUJUAN  
Untuk melihat, mempelajari dan memahami persamaan serta perbedaan yang ada dalam setiap individu secara psikologis dikarenakan adanya keberagaman budaya disekitarnya. Dengan melihat, mempelajari dan memahami persamaan serta perbedaan dalam keberagaman budaya yang ada, setiap individu dapat membangun hubungan psikologis yang terjalin dengan amat baik dengan lingkungan sosial-budaya tersebut.

C.    HUBUNGAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN ILMU LAINNYA

  •   Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan Kepribadian 

Kepribadian lebih menekankan perbedaan diantara individu misalnya memahami perbedaan dalam tradisi lintas-budaya diantara anggota-anggota budaya yang berbeda, bagaimana orang-orang menghayati diri sendiri dan konteks sosiobudaya ditempat mereka. Konteks kesamaan lintas budaya berkaitan dengan kepribadian yaitu bagaimana seseorang dapat memahami perilaku orang lain dalam budaya lain, disamping perbedaan dalam keyakinan, pendapat, sikap, dan pengetahuan. 

  •   Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi  

Psikologi lintas budaya berkaitan dengan Sosiologi karena di dalam sosiologi mempelajari akulturasi, sehingga ketika kelompok manusia dihadapkan dengan kebudayaan lain, mereka dapat mengendalikan budaya asing  yang masuk sehingga budayanya sendiri tidak akan hilang. Unsur-unsur budaya asing yang diterima pun tentunya terlebih dahulu mengalami proses pengolahan, sehingga bentuknya tidak asli lagi seperti semula. Misalnya pada sistem pendidikan di indonesia untuk sebagian besar diambil dari unsur-unsur barat, akan tetapi sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa, sehingga merupakan kebudayaan sendiri. 
Perbedaan psikologi Lintas budaya dengan psikologi Indigenous:
Psikologi indigeneous
Indigenous Psychology merupakan suatu masalah yg di kaji melaui konteks kultural/budaya yg dapat memunculkan suatu teori untuk dapat menelaah suatu tradisi dari setiap budaya masyarakat timur .

  •  Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan Antropologi 

Ilmu antropologi menekankan pada pengertian tentang manusia dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik, kepribadian, masyarakat serta kebudayaannya. Kaitannya dengan psikologi lintas budaya yaitu bagaimana manusia dapat memahami adanya perbedaan aneka warna kulit, bentuk fisik, kepribadian antara sesama manusia sehingga manusia  itu dapat menyesuaikan perilakunya pada kebudayaan tersebut, maka manusia dapat membangun hubungan sosial yang baik dengan manusia lainnya.

  •  Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan Ekologi

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.
Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu ekologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok entnik berdasarkan interaksi antara organisme dengan likngkungannya.

  •  Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan Biologi

Biologi atau ilmu hayat adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan.
Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu biologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok entnik dengan mempelajari aspek kehidupan fisik makhluk hidup.


D.    PERBEDAAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN PSIKOLOGI INDIGENOUS, PSIKOLOGI BUDAYA DAN ANTROPOLOGI

v  Psikologi Indigenous
Indigenous Psychology merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi yang mana merupakan suatu untuk memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya. Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat. Indigenous Psychology merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi yang mana merupakan suatu untuk memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya. Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Psikologi Indigenous adalah Psikologi lintas budaya berfokus pada membicararakan isu, konsep dan metode yang dikembangkan oleh komunitas ilmiah di barat, kebanyakan Amerika Serikat dan Eropa Barat, dan yang dipelajari di timur, kebanyakan negara dunia. Sedangkan Psikologi Indigenous mencakup studi tentang isu dan konsep yang mencerminkan kebutuhan dan realitas dari budaya tertentu dalam hal ini, tentu akan banyak upaya untuk memodifikasi instrumen guna memasukkan perspektif indigenus/setempat.

v  Psikologi Budaya
Psikologi budaya adalah studi tentang cara tradisi budaya dan praktek sosial meregulasikan, mengekspresikan, mentransformasikan dan mengubah psike manusia.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Psikologi budaya adalah Psikologi lintas budaya  melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Psikologi budaya melihat bagaimana budaya dapat mentransformasikan dan mengubah psike seseorang.

v  Antropologi
Menurut Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Antropologi adalah Psikologi lintas budaya  melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Antropologi melihat bagaimana manusia dalam suatu masyarakat melahirkan suatu kebudayaan.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://dynaandjayani.blogspot.com/2012/01/tugas-psikologi-lintas-budaya.html

Selasa, 20 Maret 2012

Efek Psikologis Facebook Bagi Kesehatan Mental

Beberapa waktu yang lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan facebook atau situs jejaring social lainya, misalnya anda mengubah status lebih 2x sehari dan rajin mengomentari status teman. Anda juga rajin melihat profil teman lebih dari 2x sehari meski ia tidak mengerim pwsan ataw men-taq anda d fotonya.
Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan kecanduan jejaring social seperti facebook dan MyScape juga bias membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormone, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental.
Hal ini memang bertolak belakang dengan tuhuan di bentuknya situs-situs jejaring social, dimana pengguna diiming-iming untuk dapat menemukan teman lama, ataw berkomentar atas apa yang terjadi pada rekan anda saat ini.
Suatu hubungan mulai kering ketika para indivudunya tidak lagi menghadiri social gathering, menghindaei pertemuan dengan temang-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap computer (ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan mereka menjadi gelisah karena berpisah dengan komputernya.
Sipengguna akhirnya tertarik kedalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya dalah orang asing yang baru ditemuai di facebook menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face too face perilaku ini dapat meningkatkan resiko kesehatan yang serius seperti kanker, stroke, penyakit jantung dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Insititute of Biology.
Pertemuan secara face too face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormone seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistim kekebalan dan respons terhadap stress, beraksi secara berbeda tergantung pada seberapa sering interaksi social yang dilakukan seseorang dengan yang lain.
Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa mudauntuk mempelajari kemampuan social dan membaca bahasa tubuh. “Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi antara sesame mereka dalam jumlah menit perhari. Kurang dari dua decade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat di ajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat”.
Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse dan keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waku didepan computer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkontraksi dan depresi dari system kekebalan. Seseorang yang menghabiskan watunya didepan computer juga kurang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah bahkan obesitas.
Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. “Situs jejaring social seharusnya menjadi bumbu dari kehidupan social kita, namun yang kami ditemukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah” tegasnya.
Namun, bila aktivitas facebook Anda masih sekadar sing-in, mengkonfirmasi friends requests, lalu sing out, tanpaknya anda tak perlu khawatir bakal terkena resiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun.

Teori Psikologi Akibat Kecanduan Facebook
Pengguna Facebook sebaiknya harus berhati-hati, karena seorang psikologis telah menemukan sebuah kecanduan baru yang dinamakan Facebook Addiction Disorder (FAD). Menurut psikologis Dr. Michael Fenichel, yang baru saja merilis dalam FAD online, mendeskripsikan FAD sebagai situasi dimana penggunaan Facebook telah ‘membuat lupa’ aktivitas sehari-hari seperti bangun pagi, mengenakan pakaian, menggunakan telepon atau mengecek email.
Namun, menurut Elizabeth Cohen, koresponden medis CNN, kecanduan Facebook atau FAD tersebut belum masuk menjadi diagnose medis. Namun, beberapa terapi di US menemukan bahwa user yang mengalami FAD akan memiliki disfungsi social yang berlebih. Hal ini seperti yang diklaim Facebook, bahwa sebanyak 2 miliar foto dan 14 juta video telah di-upload di berbagai halaman Facebook per bulan, juga waktu sebanyak 6 miliar menit telah dihabiskan untuk Facebook per harinya, di seluruh dunia.


http://episentrum.com/artikel-psikologi/efek-psikologis-facebook-bagi-kesehatan-mental/
http://www.teknologinet.com/2009/10/tanda-tanda-kecanduan-facebook.html

Senin, 19 Maret 2012

Kesehatan Mental

1. Definisi Kesehatan Mental

Dalam mendefinisikan kesehatan mental, sangat dipengaruhi oleh kultur dimana seseorang tersebut tinggal. Apa yang boleh dilakukan dalam suatu budaya tertentu, bisa saja menjadi hal yang aneh dan tidak normal dalam budaya lain, dan demikian pula sebaliknya (Sias, 2006). Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif.

1. Sehat mental karena tidak mengalami gangguan mental

Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang tahan terhadap sakit jiwa atau terbebas dari sakit dan gangguan jiwa.
Pengertian ini bersifat dikotomis, bahwa orang berada dalam keadaan sakit atau sehat psikisnya. Sehat jika tidak terdapat sedikitpun gangguan psikisnya, dan jika ada gangguan psikis maka diklasifikasikan sebagai orang sakit. Dengan kata lain sehat dan sakit itu mental itu bersifat nominal ytang dapat dibedakan kelompok-kelompoknya. Sehat dengan pengertian ”terbebas dari gangguan”, berarti jika ada gangguan sekialipun sedikit adanya, seseorang itu diangganb tidak sehat.

2. Sehat mental jika tidak sakit akibat adanya stressor

Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh sakit akibat stressor (sumber stres). Seseorang yang tidak sakit meskipun mengalami tekanantekanan maka menurut pengertian ini adalah orang yang sehat. Pengertian ini sangat menekankan pada kemampuan individual merespon lingkungannya.

3. Sehat mental jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan

Lingkungannya Michael dan Kirk Patrick (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) memandang bahwa individu yang sehat mentalnya jika terbebas dari gejala psikiatris dan individu itu berfungsi secara optimal dalam lingkungan sosialnya. Pengertian ini terdapat aspek individu dan aspek lingkungan. Seseorang yang sehat mental itu jika sesuai dengan kapasitasnya diri sendiri, dan hidup tepat yang bselaras dengan lingkungannya.

4. Sehat mental karena tumbuh dan berkembang secara positif

Frank, L. K. (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) merumuskan pengertian kesehatan mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara ”positif”. Dia mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab, menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan sosial dan tindakan dalam budayanya.

Dari berbagai pengertian yang ada, Johada (dalam Notosoedirjo dan
Latipun, 2005), merangkum pengertian kesehatan mental dengan mengemukakan tiga ciri pokok mental yang sehat:

(a) Seseorang melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan atau melakukan usaha untuk menguasai, dan mengontrol lingkungannya, sehingga tidak pasif menerima begitu saja kondisi sosialnya.

(b) Seseorang menunjukkan kutuhan kepribadiaanya – mempertahankan integrasi kepribadian yang stabil yang diperoleh sebagai akibat dari pengaturan yang aktif.

(c) Seseorang mempersepsikan “dunia” dan dirinya dengan benar, independent dalam hal kebutuhan pribadi.

Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health)
merumuskan pengertian kesehatan mental sebagai berikut.

(1) Kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan keadaan orang lain. (2) Sebuah masyarakat yang baik adalah masyarakat yang membolehkan perkembangan ini pada anggota masyarakatnya selain pada saat yang sama menjamin dirinya berkembang dan toleran terhadap masyarakat yang lain.

Prinsip-prinsip pengertian kesehatan mental adalah sebagai berikut:

1. Kesehatan mental adalah lebih dari tiadanya perilaku abnormal.

Prinsip ini menegaskan bahwa yang dikatakan sehat mentalnya tidak cukup kalau dikatakan sebagai orang yang tidak megalami abnormalitas atau orang yang normal. Karena pendekatan statistik memberikan kelemahan pemahaman normalitas itu. Konsep kesehatan mental lebih bermakna positif daripada makna keadaan umum atau normalitas sebagaimana konsep statistik.

2. Kesehatan mental adalah konsep yang ideal.

Prinsip ini menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi tujuan yang amat tinggi bagi seseorang. Apalagi disadari bahwa kesehatan mental itu bersifat kontinum. Jadi sedapat mungkin orang mendapatkan kondisi sehat yang paling optimal dan berusaha terus untuk mencapai kondisi sehat yang setingi-tingginya.

3. Kesehatan mental sebagai bagian dan karakteristik kualitas hidup.

Prinsip ini menegaskan bahwa kualitas hidup seseorang salah satunya ditunjukkan oleh kesehatan mentalnya. Tidak mungkin membiarkan kesehatan mental seseorang untuk mencapai kualitas hidupnya, atau sebaliknya kualitas hidup seseorang dapat dikatakan meningkat jika juga terjadi peningkatan kesehatan mentalnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah Suatu kondisi dimana kepribadian, emosional, intelektual dan fisik seseorang tersebut dapat berfungsi secara optimal, dapat beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan dan stressor, menjalankan kapasitasnya selaras dengan lingkungannya, menguasai lingkungan, merasa nyaman dengan diri sendiri, menemukan penyesuaian diri yang baik terhadap tuntutan sosial dalam budayanya, terus menerus bertumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kesehatan mental yakni sebagai berikut:

a. Biologis

Para ahli telah banyak melakukan studi tentang hubungan antara dimensi biologis dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian itu telah memberikan kesimpulan yang meyakinkan bahwa faktor biologis memberikan kontribusi sangat besar bagi kesehatan mental. Karena itu, kesehatan manusia, khususnya disini adalah kesehatan mental, tentunya tidak terlepaskan dari dimensi biologs ini. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang hubungan tersebut, khususnya beberapa aspek biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selama kehamilain.

b. Psikologis

Notosoedirjo dan latipun (2005), mengatakan bahwa aspek psikis manusia merupakan satu kesatuan dengan dengan sistem biologis. Sebagai subsistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam kehidupan manusia, diantaranya: pengalaman awal, proses pembelajaran, kebutuhan.

c. Sosial Budaya

Lingkungan sosial sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Lingkungan sosial tertentu dapat menopang bagi kuatnya kesehatan mental sehingga membentuk kesehatan mental yang positif, tetapi pada aspek lain kehidupan sosial itu dapat pulan menjadi stressor yang dapat mengganggu kesehatan mental.

d. Lingkungan

Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung kesehatan manusia itu sendiri, dan sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatannya termasuk dalam konteks kesehatan mentalnya.

3. Macam-macam gangguan Kesehatan Mental:

Untuk menentukan jenis-jenis gangguan mental, para ahli sepakat menggunakan kalsifikasi DSM-III, atau singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders revisi ke 3 tahun 1980. Menurut DSM-III, jenis-jenis gangguan mental adalah sebagai berikut :

• Disorders first evident in infancy, childhood, or adolescence atau penyimpangan/kekacauan fungsi

perkembangan pada masa kanak-kanak dan remaja. Termasuk di dalamnya adalah : retardasi mental, hiperaktif, kecemasan pada anak-anak, penyimpangan perilaku makan (seperti anoreksia), dan semua penyimpangan dari perkembangan yang normal

• Organic mental disorders, mencakup di dalamnya semua penyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat pengaruh dari berbagai penyakit yang berhubungan dengan traumatik dan kecemasan seperti penyakit kelamin serta pengaruh racun yang masuk ke dalam tubuh seperti penggunaan alkohol yang kelewat batas

• Substance use disorders, mencakup di dalamnya semua peyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh pengaruh zat-zat kimia, seperti penggunaan narkotika, zat-zat adiktif, psikotropika, alkohol, nikotin, dan sebagainya

• Schizophrenic disorders, atau kelompok penyimpangan/kekacauan kepribadian sehingga tidak mampu

berhubungan lagi dengan realitas atau kenyataan

• Paranoid disorders, atau perasaan curiga terhadap segala sesuatu yang berlebihan seperti perasaan

seakan-akan dirinya diintai terus-menerus, perasaan seakan-akan semua orang membencinya, dan sebagainya
• Affective disorders, atau depresi berat yang membuat seseorang selalu tidak bergairah murung, dan apatis

• Anxiety disorders, atau kecemasan yang berlebihan seperti kecemasan akan harga diri, kecemasan akan masa depan, dan sebagainya

• Somatoform disorders, yaitu kerusakan pada organ tubuh atau timbulnya penyakit parah yang disebabkan oleh faktor psikologis seperti kecemasan yang berlarut-larut, tetapi bila diteliti secara medis tidak ditemukan adanya penyakit atau gangguan medis lainnya

• Dissociative disorders, gangguan temporal yang menyebabkan gagalnya fungsi memory atau hilangnya kontrol terhadap emosi, seperti amnesia dan kasus kepribadian ganda (multiple personality)

• Psychosexual disorders, termasuk di dalamnya semua penyimpangan identitas seksual (transexual), kemampuan seksualitas (impoten, ejakulasi dini, frigiditas), dan kelainan seksual (menikmati hubungan seks dengan anak kecil, dengan binatang, atau dengan mayat). Homoseksualitas termasuk di dalamnya jika orang tersebut tidak menikmati keadaannya sebagai seorang homoseks

• Conditions not attributable to a mental disorder, atau kondisi-kondisi yang tidak termasuk dalam kegagalan/kekacauan mental, seperti masalah-masalah rumit yang membuat seseorang harus mencari jalan keluarnya (seperti masalah perkawinan), hubungan orang tua dengan anak, atau kekerasan terhadap anak-anak

• Personality disorders, ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku dan mengatasi stress, seperti perilaku antisosial Gangguan-gangguan karena kecemasan Seseorang mengalami gangguan kecemasan bila setiap saat dalam kehidupannya sehari-hari ia selalu merasakan tegangan psikologis yang cukup tinggi, walaupun persoalan yang dihadapi cukup ringan. Orang yang selalu cemas, kadang-kadang akan terserang rasa panik, yaitu suatu periode ketakutan yang luar biasa seakan-akan malapetaka besar akan terjadi. Keadaan ini akan diikuti oleh gejala-gejala gangguan fisik seperti jantung berdegub kencang, nafas tersenggal-senggal, keringat dingin, gemetar yang hebat, bahkan kadang-kadang sampai pingsan. Individu yang mengalami gangguan kecemasan tidak tahu faktor-faktor yang menyebabkan dia bertingkah laku seperti itu. Kecemasan ini sering disebut free-floating, karena tidak jelas faktor yang menyebabkannya. Para ahli berpendapat bahwa penyebab gangguan ini lebih bersifat internal daripada eksternal. Phobia adalah gangguan kecemasan yang lebih spesifik, yang timbul bila menghadapi rangsangan tertentu saja, seperti jenis serangga tertentu, tempat yang tinggi, tempat yang tertutup, dan sebagainya. Salah satu penyebab dari phobia adalah serangan rasa panik atau pengalaman-pengalaman yang menakutkan di masa lampau. Bila individu cenderung selalu terdorong memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan dan melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, maka ia mengalami gangguan obsesif-kompulsif. Walau penyebab gangguan kecemasan ini sulit untuk diketahui, tetapi reaksi mereka menunjukkan bahwa individu-individu tersebut mempunyai perasaan tidak mampu dalam menghadapi situasi-situasi yang mereka pandang mengancam. Gangguan-gangguan afektif Gangguan-gangguan afektif adalah gangguan-gangguan terhadap suasana hati (mood). Bila mengalami gangguan ini, orang akan menunjukkan reaksi seperti amat tertekan batinnya (depresif) dan kadang-kadang menunjukkan reaksi riang gembira yang agak berlebihan (manic). Bila seseorang sedang mengalami gangguan manic yang agak ringan, yang disebut hipomania, orang tersebut akan kelihatan energik, entusiastik, dan penuh kepercayaan diri. Ia mengerjakan banyak tugas dan membicarakan banyak ide besar tanpa memperhitungkan segi praktis atau kelayakannya. Bila gangguan sudah cukup berat, ia akan bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak, memukul-mukul tembok, dan terus sangat aktif selama beberapa jam. Mereka mudah marah kalau diganggu dan tindakannya dapat bersifat merusak. Menurut DSM-III, gejala perilaku menyimpang yang biasanya disebut manic-depressive, diberi nama gangguan bipolar (a bipolar disorder), karena suasana hati berpindah-pindah dari kutub yang satu ke kutub yang
lain dalam suatu kontinum. Schizophrenia

Ciri umum gangguan ini adalah :

• Gangguan-gangguan pada pikiran dan perhatian penderita

• Gangguan-gangguan pada persepsi. Dunia ini seakan-akan nampak lain di mata penderita

• Gangguan-gangguan pada fungsi efek atau perasaan. Mereka sering terlihat depresif dan menarik diri dari lingkungan

• Menarik diri dari kenyataan. Penderita sering berkhayal sendiri dan tenggelam dalam dunia batinnya sendiri

• Mengalami delusi dan halusinasi. Penderita merasa yakin bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya (delusi) dan kadang-kadang diikuti oleh pengalaman-pengalaman individu (merasa melihat atau mendengar sesuatu) yang tidak dialami oleh orang lain. Bila keyakinan yang timbul adalah seolah-olah ada orang yang mengejar-ngejar dirinya (merasa mau dibunuh misalnya), maka penderita mengalami delusi persekusi. Bila penderita yakin bahwa ia mempunyai kekuatan atau kemampuan luar biasa, ia mengalami delusi grandeur. Gangguan kepribadian Gangguan kepribadian merupakan pola-pola perilaku yang bersifat mal-adaptif atau merugikan si pelaku dalam hubungannya dengan orang lain. Beberapa bagian dari gangguan kepribadian adalah :

• Kepribadian narsistik, yaitu rasa kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri, merasa selalu berhasil dan superior, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain

• Kepribadian tergantung, yaitu pasif luar biasa, tidak mampu mengambil suatu keputusan, ada kecenderungan rendah diri, dan kebutuhan yang kuat untuk selalu ditolong orang lain

• Kepribadian antisosial atau yang biasa disebut dengan Psikopat, yaitu kecilnya rasa tanggung jawab, rendahnya nilai-nilai moral, dan dianggap tidak memiliki suara hati, tidak mempunyai perhatian terhadap orang lain, selalu memikirkan diri sendiri, tidak mempunyai rasa bersalah walaupun perilakunya merugikan orang lain. Para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian ini disebabkan oleh pola asuhan yang salah ketika masih kanak-kanak. Tetapi temuan baru di bidang biologis menunjukkan bahwa kemungkinan individu-individu ini sejak lahir telah membawa cacat yang disebut underreactive autonomic nervous system atau sistem syaraf otonom yang kurang relatif Gangguan karena obat-obatan berbahaya -obat berbahaya seperti narkotika, alkohol, ganja, dan pil-pil psikotropika, bila tidak digunakan menurut petunjuk dokter, dapat menimbulkan akibat-akibat yang sangat serius pada diri pemakai. Ciri-ciri utama dari obat-obatan tersebut adalah mempengaruhi sistem syaraf pusat, baik menekan maupun merangsang syaraf pusat, serta mengembangkan toleransi tubuh. Penggunaan dalam takaran berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan fisik serius yang dapat menimbulkan kematian. Bila syaraf-syaraf otak rusak karena penggunaan obat-obat berbahaya ini, maka akan timbul gejala-gejala perilaku seperti pada psikosis. Gejala-gejala ini disebut psikosis obat (drug psychosis).


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17706/3/Chapter%20II.pdf

http://yudhim.blogspot.com/2008/01/mengenal-beberapa-jenis-gangguan-mental.html